SD PLUS AN-NAHDLAH GONDANG

SD PLUS AN-NAHDLAH

Mar 7, 2017

Study Banding di SD Unggulan Al Ya'lu Malang

https://www.youtube.com/channel/UCsb8RLA9qkPBrKvgqZTaajA
Kamis, 02 Maret 2017 SD Plus An-Nahdlah Gondang “Full Day Education” mengadakan studi banding ke SD Unggulan AL YA'LU Malang. Rombongan dipimpin langsung oleh ketua Yayasan Moh Zumroni SH.i Kepala Sekolah Imroatul Khusnul K.H S.pd.I , disertai Dewan Guru , dan para staf pengajar serta ibu-ibu komite yang lain.
Kegiatan studi banding tersebut, sebagaimana diungkapkan Kepala SD Plus An-Nahdlah, dimaksudkan untuk memperoleh wawasan yang lebih luas dalam rangka pengelolaan dan pengembangan lembaga di tingkat SD (sekolah dasar). Kegiatan studi banding ini salah satu merupakan agenda atau kegiatan tahunan Yayasan An-Nahldlah Gondang yang bentuknya kegiatan eksternal selain kegiatan internal yang diadakan setiap bulan. Dalam kunjungan ke SD Unggulan AL YA'LU Malang diterima langsung oleh Wakil Kepala Sekolah dikarenaka Ibu Kepala Sekolah sedang dinas keluar kota sehingga tidak bisa menemani dan mendampingi dalam kunjungan ini. Ketika melakukan kunjungan ini, banyak yang membuat kami kagum dengan sarana dan prasaran yang ada. Mulai dari kantin kejujuran, pojok bekal siswa, perpustakaan digital, ruang UKS, Bimbingan dan Penyuluhan dan masih banyak lagi yang lain. Sehingga membuat kami terus berusaha mencari tahu apa yang ada di sekolah ini.



Pertanyaan demi pertanyaan dari staf pengajar SD Plus An-Nahdlah Gondang dan komite dijawab dengan jelas sambil disertai menunjukkan bukti dan realitas yang ada. Mulai dari ruang pembelajaran, sarana pembelajaran dan media pembelajaran juga tidak luput dari sasaran kami. Dalam benak kami, apakah kami bisa menjadi seperti sekolah ini kedepannya. Insyaallah dengan keseriusan, kerja keras dan berdo’a semua tidak ada yang tidak mungkin jawab Kepala SD Plus An-Nahdlah Gondang.
Puas dengan berjalan berkeliling di SD kami melanjutkan TK yang juga menerapkan bilingual dalam pengajarannya. Jaraknya hanya dibatasi oleh kolam renang saja tidak terlalu jauh untuk menjangkaunya. Nampaknya tidak jauh beda dengan SD-nya TK ini juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang cukup sehingga tidak terlihat kekurangan dalam menerapkan system dan model pembelajaran yang inovatif. Kantinnya tersistem dengan baik, ruangan kelas, istirahat, sholat dan bermain tertata dengan rapi. Dengan kondisi seperti ini pasti anak-anak akan betah di sekolah.
Sepulang dari studi banding perjalanan ini dilanjutkan ke Alun-Alun Kota Batu untuk membeli sekedar oleh-oleh bagi keluarga di rumah. Setelah puas berkeliling dan berbelanja disana kami melanjutkan pulang ke rumah.

Oct 3, 2015


Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude, affective), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.

Kurikulum yang ada selama ini, pada implementasinya lebih cenderung pada pencapaian nilai kognitif dan psikomotorik siswa saja. Hal ini dikhawatirkan pula terjadi pada implementasi kurikulum 2013 nanti, dimana pelajaran agama yang hanya dua jam seminggu dan juga pelaksanaan pendidikan karakter pada siswa terabaikan dalam struktur kurikulum. Bagaimana bisa kompetensi lulusan yang diharapkan dapat memiliki aspek karakter mulia jika pendidikan agama tidak terintegrasi kedalam semua mata pelajaran? Bukan integrasi dan holistik namanya kalau hanya pelajaran IPA dan IPS saja yang terintegrasi dengan mata pelajaran lain. Pengintegrasian IPA dan IPS ke dalam semua mata pelajaran hanya akan menghasilkan kompetensi kognitif dan keterampilan siswa saja tetapi tidak memuat pendidikan akhlak.

Dalam Pendidikan kita, fenomena pendidikan akhlak merupakan hal yang tak pernah terabaikan. Secara historis memang bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari nilai-nilai religius yang menjadi sumber dan daya kekuatan bangsa ini. Sesungguhnya yang memperjuangkan bangsa ini di garis depan adalah kaum santri yang siap berjuang dan berperang. Tapi, tidak semua ternyata memegang senjata, ada diplomat ulung seperti K.H. Agus Salim, Guru dari para Founding Fathers kita HOS. Cokroaminoto, dua pendidir Ormas besar yang bertujuan untuk kemerdekaan bangsa, K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), negarawan seperti M. Natsir atau seorang tokoh militer bintang lima seperti Jenderal Soedirman dan begitu banyak lagi. Mereka adalah para tokoh pesantren dan santri yang berjuang berdasarkan kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Pada dasarnya manusia selalu ingin kembali kepada fitrahnya. Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik diantara makhluk-makhluknya yang lain yang mampu berfikir. Kecenderungan manusia mempengaruhi apa pilihannya. Setelah sekian lama manusia Indonesia dicekoki dengan sistem sekuler walau disamarkan membuat jiwa bangsa ini memberontak. Upaya-upaya untuk mencerabut bangsa ini dari akar budayanya ternyata tidak berhasil. Masyarakat bosan dengan Sistem Pendidikan Nasional dan model pendidikan umum yang terus memisahkan antara pendidikan agama (Islam) dengan pendidikan umum. Itulah fitrah manusia yang ingin memenuhi relung jiwanya dengan cahaya Allah.

Saat ini, telah menjamur Sekolah Islam Terpadu yang menawarkan hal yang lebih dibandingkan dengan pendidikan umum. Kurikulum yang ada di sekolah Islam terpadu telah mampu mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum, Sekolah Islam Terpadu juga memberikan siswanya skill sesuai dengan bakatnya masing-masing. Selain itu, pola pembelajarannya juga sedikit berbeda dan memang mengakomodir hak-hak siswa sebagai penuntut ilmu. Hal ini sebenarnya mencoba menjawab tantangan zaman yang ke depan akan masuk para era globalisasi dan perdagangan bebas. Anak-anak Indonesia harus sudah dibekali cara-cara manajerial, skill dan sebagainya yang menunjang dirinya untuk mampu bersaing.  Tentunya membentuk karakter mereka bukan untuk menjadi tenaga kerja tetapi yang membuka lapangan kerja. Hal inilah yang membuat Sekolah Islam Terpadu sangat diminati oleh sekian banyak masyarakat Indonesia saat ini.

Hal di atas bisa menjadi dasar untuk mencoba menerapkan sistem pembelajaran yang dilakukan di sekolah Islam terpadu, sehingga tidak melulu nilai angka yang diprioritaskan. Tapi mulai mengarah kepada nilai akhlak yang dimiliki anak didik nantinya. Fakta di lapangan mengenai cara mendidik di sekolah umum sangat berbeda dengan sekolah Islam terpadu yaitu dalam ‘mengolah’ anak didik mereka menjadi sumber daya manusia yang juga pintar secara perilaku. Misalnya saja, tidak kita temukan semacam permainan berhikmah di sekolah umum, berdoa pun tidak bisa dilafalkan dan dibenarkan panjang pendek serta makhorijul hurufnya karena dalam 1 kelas mungkin ada siswa yang beragama lain. Selain itu, yang lebih penting adalah seluruh mata pelajaran mulai dari eksak sampai sosial disampaikan tanpa bisa terpadu dengan agama Islam, hanya sesuai dengan capaian tersampaikannya materi tersebut.Masyarakat mulai sadar bahwa pembentukan kecerdasan tidak hanya dinilai dari umum tapi juga agama, khususnya agama Islam. Masa pendidikan dasar adalah masa pendidikan moral. Hal ini yang akan menentukan bagaimana anak berkembang. Kemerosotan moral yang terjadi pun juga disebabkan salah satunya oleh penanaman nilai agama pada anak usia dini yang diabaikan.Nah, disinilah implementasi Sekolah Islam terpadu. Sehingga jelas sekali Kurikulum 2013 yang akan dicanangkan telah lebih dahulu diimplementasikan keterpaduan 'akhlaq' yang menjadi ruh pembelajaran.


PENDAHULUAN

            Munculnya berbagai lembaga pendidikan berlabel Islam di tanah air pada periode awal tahun 2000 memang cukup memberikan angin segar bagi para orang tua yang khawatir terhadap kondisi pergaulan putra – putrinya di bangku sekolah. Memang tidak kita pungkiri sebelumnya telah ada beberapa organisasi Islam yang juga menggarap ladang pendidikan ini secara kontinu. Namun kemunculan lembaga pendidikan berlabel Islam akhir – akhir ini yang semakin banyak dan tidak hanya dipegang oleh organisasi Islam tertentu agaknya memang hal tersebut berperan sebagai respon dari masyarakat yang membaik terhadap lembaga pendidikan berlabel Islam (sekolah Islam).

            Sekolah Islam sebelumnya sempat mendapatkan stigma negatif dari masyarakat secara umum. Masyarakat menilai bahwa sekolah Islam adalah kasta kelas dua, jika putra – putrinya tidak masuk ke sekolah umum barulah mereka mau memasukkan putra – putri mereka ke sekolah Islam. Alih – alih untuk membuat putra – putri mereka lebih baik dengan menuntut ilmu di sekolah Islam, beberapa dari orang tua siswa masih berpikir, daripada tidak bersekolah, lebih baik di sekolahkan di sekolah yang Islam saja. Jikalau niatnya saja sudah seperti itu maka output yang dihasilkan sudah bisa kita tebak seperti apa nantinya.

            Output pendidikan Islam yang sebenarnya dapat kita baca dari pengertian Ibnu Qayyim Al Jauziyah, beliau mengartikan pendidikan yang seringkali disebut dengan tarbiyah. Tarbiyah menurut beliau, mencakup tarbiyah qalb (pendidikan hati) dan tarbiyah badan secara sekaligus. Antara hati dan badan sama-sama membutuhkan tarbiyah. Keduanya harus ditumbuhkembangkan dan ditambah gizinya sehingga mampu tumbuh dengan sempurna dan lebih baik dari sebelumnya (Al Jauziyah, 2011). Dengan pendidikan yang seimbang (tawazun) antara hati dan akal maka akan didapatkan kualitas sumber daya manusia yang luar biasa sesuai dengan ciri seorang muslim yang sempurna.

            Namun sayangnya semakin tahun kepekaaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan ini semakin menurun, Menurun secara substansial dari pengertian pendidikan yang telah disebutkan di atas. Kita bisa melihat dari target yang ditetapkan pemerintah dan secara otomatis menjadi pola pikir dari orang tua murid, yaitu nilai dengan ambang batas tertentu. Tahun 2011 formula nilai akhir penentu kelulusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sederajat, serta sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat, ditetapkan dengan menggabungkan nilai mata pelajaran ujian nasional (UN) dengan nilai sekolah. Nilai akhir adalah pembobotan 60 persen nilai UN ditambah 40 persen nilai sekolah. Syarat kelulusan lainnya adalah nilai tiap mata pelajaran minimal 4,00 dan tidak ada ujian ulangan. (Kompas, 2011). Targetnya masih berupa nilai – nilai atau angka – angka, belum ada targetan terkait akhlak dari peserta didik. Targetan lain, akhlak misalnya yang sebenarnya tidak harus masuk ke dalam syarat kelulusan itu ternyata juga tidak sepebuhnya dipahami oleh seluruh staf pengajar di sekolah – sekolah umum. Mereka lebih mementingkan pintar secara akal dan lulus dengan nilai yang memuaskan serta menambah nilai jual dari sekolah yang bersangkutan jika lebih sedikit persentase yang tidak lulus.

            Padahal jika dilihat lebih mendalam, stigma tentang kualitas output siswa dari sekolah Islam tidak sepenuhnya benar. Di novel Laskar Pelangi (Hirata, 2008) yang juga mengecap pendidikan dasarnya di sekolah Islam Muhammadiyah Belitong mengalami pematangan akhlak disana, karena sekolah tersebut tidak hanya berdasarkan nilai angka, tapi hati lah yang harus juga ikut ‘disekolahkan’. Akhirnya dia juga menjadi peraih beasiswa ke luar negeri tanpa mengesampingkan pendidikan akhlak yang di peroleh di sekolahnya dulu. Lain cerita seperti pengarang novel Negeri Lima Menara, Achmad Fuadi yang awalnya ‘dipaksa’ untuk melanjutkan pendidikan di sekolah Islam pondok pesantren modern Gontor, Ponorogo. Keinginan ibunya untuk menjadikan dia seorang sosok intelektual religius seperti Buya Hamka telah mengantarkannya merasakan pendidikan yang disampaikan dengan ikhlas oleh para kyai nya di pondok (Fuadi, 2010). Bahkan jargon yang sangat kita kenal dan menjadi kata – kata motivasi dari novel ini adalah ‘Man Jadda Wa Jada’ yang artinya barangsiapa bersungguh – sungguh pasti dia akan berhasil/sukses. Hal ini yang tidak menghalangi pengarang dan juga seluruh siswa di sekolah Islam untuk menjadi seorang pribadi yang sukses dalam urusan dunia dan juga agama. Dalam ungkapan salah seorang sahabat pun juga disebutkan “Bersungguh – sungguhlah kalian dalam urusan agama seolah – olah kalian mati esok pagi dan juga bersungguh sungguhlah dalam urusan dunia seolah engkau akan hidup selamanya”.

            Sekolah Islam yang sekarang sudah mulai ‘terasa’ bedanya di masyarakat, penerimaan mereka terhadap sekolah Islam mulai meningkat, terutama pada sekolah Islam terpadu. Pengajaran di sekolah Islam terpadu yang cukup menarik membuat anak didik tidak jenuh dan lebih mengenal Islam dengan menyenangkan. Salah satu contohnya lewat berbagai permainan yang disisipi hikmah, mengajari hafalan dengan lagu anak – anak tidak lupa pula penyampaian cerita sejarah Islam dan para nabi dengan bermain peran dan lain sebagainya. Lebih menarik adalah pengajaran moral yang diterapkan dengan cara learning by doing dan juga diajarkan secara langsung oleh ustadz atau ustadzah mereka. Fokus utamanya adalah untuk membentuk akhlak yang Islami (Fauziddin, 2009).  

Makalah ini mencoba untuk memberikan arahan mengenai lembaga pendidikan yang dapat membantu anak – anak mengerti Islam dengan menyenangkan. Selain itu juga menggali keunggulan apa saja yang ada pada sekolah islam terpadu tentang sistem pengajaran dan penanaman akhlak kepada anak didiknya.

PEMBAHASAN

Sekolah Islam Terpadu menjadi sebuah fenomena dalam pendidikan kita. Pertama, secara historis memang bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari nilai-nilai religius yang menjadi sumber dan daya kekuatan bangsa ini. Sesungguhnya yang memperjuangkan bangsa ini di garis depan adalah kaum santri yang siap berjuang dan berperang. Tapi, tidak semua ternyata memegang senjata, ada diplomat ulung seperti K.H. Agus Salim, Guru dari para Founding Fathers kita HOS. Cokroaminoto, dua pendidir Ormas besar yang bertujuan untuk kemerdekaan bangsa, K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), negarawan seperti M. Natsir atau seorang tokoh militer bintang lima seperti Jenderal Soedirman dan begitu banyak lagi. Mereka adalah para tokoh pesantren dan santri yang berjuang berdasarkan kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Kedua, pada dasarnya manusia selalu ingin kembali kepada fitrahnya. Allah SWT. telah menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik diantara makhluk-makhluknya yang lain yang mampu berfikir. Kecenderungan manusia mempengaruhi apa pilihannya. Setelah sekian lama manusia Indonesia dicekoki dengan sistem sekuler walau disamarkan membuat jiwa bangsa ini memberontak. Upaya-upaya untuk mencerabut bangsa ini dari akar budayanya ternyata tidak berhasil. Masyarakat bosan dengan Sistem Pendidikan Nasional dan model pendidikan umum yang terus memisahkan antara pendidikan agama (Islam) dengan pendidikan umum. Itulah fitrah manusia yang ingin memenuhi relung jiwanya dengan cahaya Allah.

Ketiga, Sekolah Islam Terpadu menawarkan hal yang lebih dibandingkan dengan pendidikan umum. Selain mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum, Sekolah Islam Terpadu juga memberikan siswanya skill sesuai dengan bakatnya masing-masing. Selain itu, pola pembelajarannya juga sedikit berbeda dan memang mengakomodir hak-hak siswa sebagai penuntut ilmu. Hal ini sebenarnya mencoba menjawab tantangan zaman yang ke depan akan masuk para era globalisasi dan perdagangan bebas. Anak-anak Indonesia harus sudah dibekali cara-cara manajerial, skill dan sebagainya yang menunjang dirinya untuk mampu bersaing.  Tentunya membentuk karakter mereka bukan untuk menjadi tenaga kerja tetapi yang membuka lapangan kerja. Ketiga hal itulah yang membuat Sekolah Islam Terpadu sangat diminati oleh sekian banyak masyarakat Indonesia saat ini (Sumantri, 2011)

                Ketiga hal di atas bisa menjadi dasar untuk mencoba menerapkan sistem pembelajaran yang dilakukan di sekolah islam terpadu, sehingga tidak melulu nilai angka yang diprioritaskan. Tapi mulai mengarah kepada nilai akhlak yang dimiliki anak didik nantinya. Fakta di lapangan mengenai cara mendidik di sekolah umum sangat berbeda dengan sekolah Islam terpadu yaitu dalam ‘mengolah’ anak didik mereka menjadi sumber daya manusia yang juga pintar secara perilaku. Misalnya saja, tidak kita temukan semacam permainan berhikmah di sekolah umum, berdoa pun tidak bisa dilafalkan dan dibenarkan panjang pendek serta makhorijul hurufnya karena dalam 1 kelas mungkin ada siswa yang beragama lain. Selain itu, yang lebih penting adalah seluruh mata pelajaran mulai dari eksak sampai sosial disampaikan tanpa bisa terpadu dengan agama Islam, hanya sesuai dengan capaian tersampaikannya materi tersebut.

            Masyarakat mulai sadar dan melihat bahwa pendidikan di sekolah dasar merupakan pondasi dari pendidikan selanjutnya. Pembentukan kecerdasan tidak hanya dinilai dari umum tapi juga agama, khususnya agama Islam. Masa pendidikan dasar adalah masa pendidikan moral. Hal ini yang akan menentukan bagaimana anak berkembang. Kemerosotan moral yang terjadi pun juga disebabkan salah satunya oleh penanaman nilai agama pada anak usia dini yang diabaikan (Dewi, 2010).

            Berbagai metode pengajaran di sekolah Islam terpadu yang menarik siswa untuk lebih paham dan kemudian mengikuti apa yang diajarkan ustadz/ustadzah mereka antara lain sebagai berikut : kelas diawali dengan membaca doa akan belajar, syahadat, surat fatihah, murojaah (mengulang hafalan), ikrar, tata tertib, dan absensi. Selanjutnya pembelajaran materi Al islam dengan menggunakan  pendekatan belajar melalui bermain.

            Kelebihan yang dimikili oleh sekolah Islam terpadu yaitu prinsip learning by doing.  Siswa terlibat langsung dalam, pengalaman yang konkrit dengan suatu materi. Aktivitas di mana mereka berpartisipasi dengan sesuatu yang relevan dan penuh arti. Kemudian juga adanya reward and punihsment yang mendidik, jika salah seorang anak didik melakukan kesalahan maka respon yang dilakukan oleh ustadz/ustadzahnya bukanlah memarahi mereka, justru mengajak dialog hingga anak didik tahu benar dimana letak kesalahan yang dia lakukan. Dengan cara ini diharapkan anak didik tidak mengulangi kesalahannya lagi karena mereka telah paham bahwa perbuatannya tidak benar. Pembiasaan lainnya lewat contoh pun juga berlaku sebaliknya, jika salah seorang pengajar melakukan kesalahan yang diketahui anak didiknya, misalnya ketika masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka pengajar lainnya akan menegur dan menanyakan kepada anak didik lainnya bagaimanakah seharusnya perilaku yang benar. Dari kedua contoh tersebut dapat dilihat bahwa sang anak didik benar – benar mendapatkan contoh nyata yang harus mereka lakukan, sehingga mereka lebih mudah menirunya.

            Dalam sekolah islam terpadu, guru tetap memegang peranan yang  penting dalam proses pendidikan, yaitu dakam penanaman  nilai.  Hal  ini  sesuai dengan yang diungkapkan Chomaidi bahwa “peranan guru bukan sekedar komunikator nilai, melainkan sekaligus sebagai pelaku  dan  sumber  nilai  yang  menuntut  tanggung  jawab  dan  kemampuan dalam  upaya meningkatkan  kualitas  pembangunan manusia  seutuhnya,  baik yang  bersifat  lahiriyah maupun  yang  bersifat  batiniah  (fisik  dan  non  fisik). Artinya yang dibangun adalah karakter, watak, pribadi manusia yang memiliki kualitas  iman,  kualitas  kerja,  kualitas  hidup,  kualitas pikiran, perasaan, dan kemauan (Chomaidi, 2005)”. Guru di sekolah islam terpadu berperan sebagai orang tua siswa saat di sekolah, bahkan pengawasan siswa ketika di rumah pun juga masih dipantau lewat orang tuanya, adakah perubahan positif dari anak didiknya.

PENUTUP

            Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa sekolah Islam terpadu merupakan alternatif yang baik untuk mencetak anak didik yang cerdas secara akal dan juga hati. Orangtua yang khawatir akan kondisi masa depan akhlak putra – putrinya yang dalam hal ini dapat menentukan kondisi bangsa di masa depan dapat mulai untuk beralih sudut pandang mengenai pendidikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Melihat respon yang cukup baik dari masyarakat dan juga banyaknya bermunculan sekolah Islam terpadu, agaknya pemerintah juga perlu memberikan perhatiannya pada lembaga ini. Akan lebih baik lagi jika beberapa model pengajaran sekolah islam terpadu juga diterapkan pada pengajaran mata pelajaran di sekolah umum.

Jan 27, 2013

Pengembangan Kurikulum dan Kebangkitan Sekolah Islam Unggul

PENGEMBANGAN mendasar yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam kaitannya dengan penyelenggaran pembelajaran di sekolah adalah upaya "desentralisasi kurikulum", yakni kurikulum yang berbasis kekhasan masing-masing sekolah. Selama ini, jika GBPP kurikulum dibentuk secara sentralistis, maka sekarang setiap sekolah berhak mengembangkan kurikulumnya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan yang ada di sekolah. Karena itu, pihak sekolah seharusnya beraprisiasi secara kritis, kreatif dan adaptif.

Selanjutnya, pengelola sekolah dapat menjabarkan acuan kurikulum yang di buat oleh pusat yang bersifat generik itu sesuai dengan kondisi kultural sekolah. Pihak sekolah jauh lebih memahami kondisi masing-masing. Karena itu, perlu diberdayakan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), guna melakukan pembahasan dalam rangka pembenahan kurikulum di tiap-tipa sekolah. Perkumpulan kepala sekolah bisa dalam lingkup wilayah, daerah atau gugus sekolah, yang berfungsi sebagai sarana komunikasi, konsultasi dan tukar pengalaman. Pendekatan demikian ini disebut bottom-up, pengambilan inisiatif dilakukan dengan cara partisipasif dari bawah. Dari perencanaan kurikulum sampai pelaksanaannya tercermin dari sifat otonom sekolah itu sendiri (Mulyasa, 2002:31-33).

Pembenahan kurikulum di masing-masing sekolah dapat dilakukan melalui pendekatan school-building. Suatu pendekatan yang melibatkan personel yang lebih luas, yang lebih bersifat responsif terhadap kebutuhan siswa lokal, dan memperbaiki kesempatan untuk perubahan kurikulum yang diajukan untuk diimplementasikan dalam ruang kelas.

Pendekatan school-building, diperlukan untuk pembenahan kurikulum yang efektif. Kepala sekolah harus banyak memberikan kontribusi terhadap program kurikulum. Untuk melihat pembenahan suatu kurikulum nampaknya sangat memerlukan sebuah evaluasi terlebih dahulu. Secara konseptual untuk membantu evaluasi tersebut dapat dijelaskan dengan beberapa pertanyaan berikut ini:

1. Sudahkah sekolah menerapkan dengan gamblang, menurut definisi operasional, tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan?
2. Apakah mata pelajaran dalam kurikulum membantu untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah?
3. Apakah kurikulum yang komprehensif seharusnya memenuhi kebutuhan seluruh siswa?
4. Apakah kurikulum merefleksikan kebutuhan dan harapan masyarakat, seperti halnya kebutuhan siswa?
5. Apakah isi dari kurikulum dipersiapkan untuk pengembangan sikap-sikap dan nilai-nilai siswa, termasuk pengetahuan dan keahlian?
6. Apakah materi-materi kurikulum layak bagi minat dan kemampuan siswa?
7. Apakah tujuan pendidikan pada tiap-tiap materi dalam kurikulum disampaikan dengan gambalang dan didefinisikan secara operasional?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, seperti yang dikemukakan Gorton (1976: 236-239) dapat diajuakan untuk pembenahan kurikulum sekolah oleh semua kalangan yang termasuk di dalamnya guru, kepala sekolah, komite sekolah, dewan pendidikan, dan komisi pendidikan di sekolah. Dengan begitu, pembenahan kurikulum yang dilakukan oleh lembaga sekolah dapat menyesuaikan dengan tuntutan dari stakeholders dan masyarakat luas. Sehingga antara sekolah dan masyarakat sama-masa memiliki tujuan dan cita-cita yang sama untuk mewujudkan harapan dan keinginan dari semua pihak.

Sekolah Islam Unggulan

Salah satu perkembangan yang sangat mengembirakan dewasa ini dalam masyarakat muslim Indonesia adalah munculnya sekolah Islam unggulan. Sekolah unggulan nampaknya memiliki karakteristik pada pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dan sekaligus ada penekanan pada religiusitas dan kesalehan melalui materi pelajaran keislaman.
Dalam perspektif sejarah, merebaknya sekolah unggulan Islam merupakan salah satu refleksi atas kelangkaan ulama, pemimpin dan ilmuan. Suatu masalah yang banyak dibicarakan masyarakat Indonesia, terutama karena telah meninggalnya ulama tua/senior. Berkembangnya sekolah unggulan Islam dimaksudkan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan sinergis di bidang Imtak dan Iptek (Sinergi, 1998).

Jadi, dilihat dari kesejarahannya sejak tahun 1980-an pendidikan Islam sedang menghadapi dua tantangan, yakni pertama, kemanjuan ilmu pengetahuan dan teknologi-informasi sebagaimana kata Alvin Toffler, dalam bukunya The Trird Wave (1980). Kedua, umat Islam sedang/akan mengalami suatu krisis kader ulama di masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim seperti ini, kedua aspek ini ibarat sekeping mata uang yang sulit dipisahkan dari tujuan pendidikan Islam.

Di samping masalah pertama dan kedua, juga karena rasa keprihatinan terhadap mutu pendidikan Islam yang rata-tara masih rendah. Opini lama yang sempat muncul kepermukaan adalah banyaknya orang tua muslim yang tidak percaya kepada sekolah Islam. Sehingga mereka banyak yang menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah Missionaris, baik Katolik maupun Protestan, yang sejak aman Belanda telah dan hingga sekarang masih dikenal dengan kualitasnya yang baik (Azra, 1998: 80-81). Melalui kepritinan inilah akhirnya banyak pihak untuk mengusulkan supaya pendidikan Islam mendirikan sebuah sekolah unggulan Islam.

Saat ini, kesadaran orangtua muslim sudah mulai percaya kepada sekolah Islam/madrasah unggulan. Karena sekolah atau madrasah tersebut menawarkan bermutu memberikan prospek yang pasti bagi anak-anak mereka untuk melanjtkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Lebih lanjut, orangtua muslim percaya lingkungan madrasah dan sekolah elit Islam lebih aman dibandingkan dengan lingkungan sekolah umum. Misalnya, jarang terjadi ada tawuran antar siswa di sekolah atau madrasah elit Islam.

Dalam perspektif ekonomi dan sosiologis, munculnya sekolah unggulan Islam diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan yang tengah dihadapi oleh internal umat Islam sendiri yakni keprihatinan terhadap mutu pendidikan Islam yang rendah dan sekaligus memberi solusi terhadap tantangan Iptek dan Imtak. Sebagai sekolah elit, mereka kebanyakan merebak di daerah perkotaan. Dan jika dilihat dari kaca mata ekonomi dan sosiologi, sekolah elit memang pangsa pasarnya adalah anak-anak dari orangtua yang taraf penghidupannya sudah relatif mapan. Sehingga hubungan antara sekolah unggulan Islam dengan masyarakat terdapat titik kesamaan yaitu unsur budaya kelas tinggi.

Secara finansial, sekolah unggulan Islam relatif mahal, hanya terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke atas. Secara sosiologis hal ini ada korelasi mengapa sekolah unggulan Islam itu tergolong cepat berkembang dan membanggakan, karena secara finalsial bagi sekolah unggulan Islam tidak lagi ada masalah. Sebut saja misalnya; Sekolah al-Azhar yang berada di Kawasan Kebayoran Baru, Lembaga Pendidikan Islamic Village berada di Tangerang, SMU Madania berada di Parung Bogor, Sekolah Pendidikan Pelita Harapan di Tangerang, SMA Darul Ulum di Jombang, MIN Malang dan seterusnya.

Namun akhirnya sebagian orang menyoroti sekolah unggulan Islam adalah sekolah untuk diskriminasi (sinergi, 1998). Terlepas dari kelebihannya, sekolah unggulan Islam tetap masih menyimpan tanda tanya besar bagi kelangsungan generasi masa depan.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Sumber Bacaan
Azra, Azyumardi, 1999: Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju mellinium Baru, Jakarta: Logos.
Hasbullah, 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia; Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Jakarta: Rajawali Press.
Gorton, Richard A., 1978. School Administration Challenge and Opportunity for leadership, Dubuque, Lowa: Wm.C. Brown Company P.
Mas'ud, Abdurrahman, dkk., 2002. Dinamika Pesantren dan Madrsah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mastuhu, 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos.
Muhaimin, et.al. 2001. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: Rosda.
Mulkhan, Abdul Munir, dkk., 1998. Religiusitas Iptek, Rekonstruksi Pendidikan Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mulyasa, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementas,Bandung: Rosda.
Sinergi (Jurnal Populer Sumberdaya Manusia), No. 1 Volume I Januari-Maret 1998.


sumber : http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2655:pengembangan-kurikulum-dan-kebangkitan-sekolah-islam-unggul&catid=35:artikel-dosen&Itemid=210

Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak

1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar yang sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dengan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.
2. Hadiah
Hadiah dapat menjadi motivasi belajar yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untuk suatu pekerjaan yang tidak menarik menurut siswa.
3. Kompetisi
Persaingan, baik yang individu atau kelompok, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan motivasi belajar.
5. Memberi Ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan diadakan ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka.
6. Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi belajar anak. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.
Hal senada juga diungkapkan oleh  Fathurrohman dan Sutikno (2007: 20) motivasi belajar siswa dapat ditumbuhkan melalui beberapa cara yaitu:
a) Menjelaskan tujuan kepada peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b) Hadiah.
Hadiah akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c) Saingan/kompetisi.
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d) Pujian.
Siswa yang berprestasi sudah sewajarnya untuk diberikan penghargaan atau pujian. Pujian yang diberikan bersifat membangun. Dengan pujian siswa akan lebih termotivasi untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi.
e) Hukuman.Cara Meningkatkan Motivasi Belajar
Cara meningkatkan motivasi belajar dengan memberikan hukuman. Hukuman akan diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Bentuk hukuman yang diberikan kepada siswa adalah hukuman yang bersifat mendidik seperti mencari artikel, mengarang dan lain sebagainya.
f)  Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar.
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. Selain itu, guru juga dapat membuat siswa tertarik dengan materi yang disampaikan dengan cara menggunakan metode yang menarik dan mudah dimengerti siswa.
g) Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
Kebiasaan belajar yang baik dapat dibentuk dengan cara adanya jadwal belajar.
h) Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun kelompok.
Membantu kesulitan peserta didik dengan cara memperhatikan proses dan hasil belajarnya.  Dalam proses belajar terdapat beberap unsur antara lain yaitu penggunaan metode untuk mennyampaikan materi kepada para siswa. Metode yang menarik yaitu dengan gambar dan tulisan warna-warni akan menarik siswa untuk  mencatat dan  mempelajari materi yang telah disampaikan..
i) Menggunakan metode yang bervariasi.
Meningkatkan motivasi belajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang variasi. Metode yang bervariasi akan sangat membantu dalam proses belajar dan mengajar. Dengan adanya metode yang baru akan mempermudah guru untuk menyampaikan materi pada siswa.
j) Menggunakan media pembelajaran yang baik, serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berikut merupakan beberapa tips yang bisa anda gunakan untuk meningkatkan motivasi belajar anda, semoga berhasil!!

sumber : http://belajarpsikologi.com/cara-meningkatkan-motivasi-belajar-anak/

Peran Orangtua Memotivasi Anak Berprestasi Lewat Ekskur

Hari Pendidikan Nasional tidak hanya dimaksudkan agar para guru dan siswa menorehkan prestasi. Namun, bagi Anda para orang tua bisa juga ikut berpartisipasi. Caranya dengan menjadi orang tua yang selalu memberikan motivasi untuk anak Anda agar berprestasi. Anda tidak perlu ceramah kepada anak, cukup dengan membiarkan anak Anda memilih kegiatan ekstra kurikuler yang disukainya.  
Ingin tahu kenapa ?
Kegiatan ekstra kurikuler (ekskur) membantu memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik selama jam sekolah. Pernyataan tersebut merupakan hasil penelitian terbaru dari pengawas sekolah dasar dan menengah. Penelitian yang dilakukan oleh National Afterschool Association (NAA) terhadap para pengawas sekolah ini menjelaskan pentingnya program ekskur yang dapat memberikan manfaat kepada siswa.
Menurt Dr Paul Young, presiden NAA, data dari penelitiannya ini menunjukkan sebesar 82% dari pengawas sekolah setuju bahwa program ekskur tidak hanya penting, namun juga dapat meningkatkan belajar siswa dan interaksi sosial antar siswa.
Temuan penting dari penelitian ini mengungkapkan banyak alasan bagi pengawas sekolah yang merasa program ekskur itu penting, dintaranya :
  • Meningkatkan Kinerja
     Pengawas sekolah yang diteliti sepakat bahwa manfaat yang diperoleh siswa yang mengikuti kelas ekskur, anatara lain :
  1. Meningkatkan kinerja di kelas akademik (93%)
  2. Meningkatkan keterlibatan di kelas (92%)
  3. Meningkatkan ketrampilan interaksi sosial (92%)
  4. Meningkatkan kemampan belajar (87%)
  5. Meningkatkan Nilai Ujian (86%)
  • Membangun Ketrampilan
Sebagian besar pengawas mengatakan kegiatan ekskur dapat meningkatkan prestasi siswa dalam berbagai disiplin ilmu penting, termasuk di salamnya matmatika dan membaca :
  1. Matematika (95%)
  2. Membaca (94%)
Jadi, apapun pilihan kegiatan ekskur anak, Anda tidak perlu khawatir, karena ekskur pun dapat menjadikan motivasi anak untuk berprestasi di bidang akademik. Yang terpenting adalah dukungan penuh dari Anda sebagai orangtuanya dan tidak lupa Anda juga harus memperhatikan time manajemen untuk anak. Mulai sekarang terus berikan motivasi kepada anak !

sumber :http://eductory.com/stories/664-peran-orangtua-memotivasi-anak-berprestasi-lewat-ekskur

Setiap Anak punya Potensi untuk Berprestasi

SMS saya pada putra kedua yang sedang mengikuti babak final Lomba Lukis Remaja Tingkat Nasional di jawab, “Aku nggak menang, tapi puas banget”. Hmm…bisa mengambil pelajaran dari sebuah nilai persaingan dan pertemanan adalah prestasi baginya.
 Bagi kami prestasi tak mesti bermakna menjadi juara, meraih piala. Prestasi bagi setiap keluarga pasti memiliki definisi operasional yang berbeda. Ada yang menganggap bahwa menjadi juara kelas barulah disebut berprestasi. Ada pula yang beranggapan bahwa tercapainya target yang di tetapkan bersama adalah prestasi. Yang lainnya menyebutkan bahwa proses yang berjalan ke arah positif sudah merupakan sebuah prestasi. Yang pasti, ukuran prestasi harus disesuaikan dengan usia perkembangannya.

 Sebelum orang tua mendorong anak untuk memiliki “prestasi” seperti impian kita, perlu upaya mengenali potensi masing-masing anak karena mereka adalah makhluk yang unik.  Potensi yang harus dipandang secara jernih tanpa memasukkan pretensi orang tua, yang secara tidak sadar sering “mematok” impian masa kecil kita pada anak tanpa menimbang apakah ia menyetujuinya atau tidak.

 Tidak ada salahnya jika orang tua secara terbuka mendiskusikan kelebihan dan kekurangan anak dalam obrolan-obrolan ringan dengan mereka. Termasuk usulan-usulan untuk meminimalisir kekurangannya dan memperbesar potensi yang dimilikinya. Tidak ada salahnya jika kita membuka peta potensi ini pada semua anak yang sudah dapat diajak berdialog. Dengan demikian mereka berpikir bahwa orang tua tetap berlaku adil walau memperlakukan anak secara berbeda. Meskipun orang tua tidak bermaksud membandingkan atau membedakan satu anak dengan lainnya. Anak belajar bahwa orang tua mereka memberi support pada masing-masing anak sesuai kebutuhannya. Anak jadi tahu bahwa orang tua akan selalu mendukung mereka untuk berprestasi dalam bidang yang mereka minati.

 Kadang kala kita terhenyak dengan keputusan anak untuk mengelola potensi yang dimilikinya. Acapkali kita mendorong terlalu keras. Maksud hati ingin menunjukkan dukungan, tetapi tidak selalu disambut positif oleh anak. Orang tua bisa jadi memandang sang anak memiliki potensi kuat untuk berprestasi dalam bidang akademis misalnya. Namun ternyata sang anak memutuskan untuk mengembangkan bakat seninya. Sesuatu yang mungkin membuat kita khawatir akan masa depannya. Biarkan anak mengeksplorasi potensinya sehingga ia memiliki jutaan pengalaman yang akan menjadi modal hidupnya kelak. Kita tinggal mengarahkan dan berdo’a agar langkahnya diridhoi Allah.

 Hal yang paling krusial justru ketika anak tidak mengenali potensi dirinya, tidak mau mengembangkannya dan kita selaku orang tua memaksakan kehendak. Sudah saatnya kita membuka komunikasi yang produktif dengan buah hati kita. Komunikasi yang mengarahkan mereka pada pilihan hidup yang sudah diketahui segala resikonya dan mereka mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk kebaikan umat manusia. Inilah prestasi sesungguhnya. Wallahu’alam

 Oleh: Ledia Hanifa Amaliah

Ibu dari Widad Maulana (mhs FE UNPAD, alumni SMA Al Hikmah), ‘Azza Habibullah (kls XI, alumni SMP Al Hikmah) & Mi’raj Shabrin Jamil (kls IX SMP Al Hikmah). Istri dari Drs. Bachtiar Sunasto, MS.

Kejujuran modal utama meraih sukses

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, bagaimana seorang pemuda bernama Muhammad ibnu ‘abdillah, memulai membangun karakter pribadi, jauh sebelum dirinya membangun peradaban, dengan satu karakter inti hinga dirinya diberi gelar oleh masyarakat di lingkungannya Al Amin. Al Amin artinya orang yang paling jujur atau terpercaya, adalah gelar istimewa yang diberikan penduduk Mekah karena beliau berhasil menyelesaikan dengan ketulusan hati dan kecerdasan akal terhadap  perselisihan kaumnya ketika akan mengembalikan Hajar Aswad ke dinding Ka’bah.

Telah menjadi komitmen An Nahdloh, bahwa akhlak mulia menjadi tujuan belajar yang ingin dicapai. Segenap potensi dan usaha digerakkan secara optimal untuk mewujudkan tujuan tersebut, sehingga setiap kegiatan belajar yang diselengarakan oleh An Nahdloh mengarah pada penanaman, pengamalan dan pembiasaan akhlak mulia.

Kejujuran menjadi sifat dasar dari akhlak mulia yang merupakan pelajaran penting tak terpisahkan dari keseluruhan program belajar. Dari guru al Islam, semua murid memperoleh pemahaman yang benar tentang konsep kejujuran, dari guru mata pelajaran lain memperoleh pelatihan dan pembiasaan yang terus menerus, dan dari para pimpinan mendapat contoh nyata yang dapat diteladani oleh anak-anak. Sehingga secara utuh semua siswa mendapat pemahaman yang benar dan mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengajarkan kejujuran bukan pekerjaan parsial yang hanya menjadi tanggung jawab satu fihak dan dikerjakan musiman, tetapi menjadi tugas besar bagi seluruh komponen sekolah, dirancang secara terstrktur dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Dengan pemahaman yang benar, contoh yang nyata dan pembiasaan yang terusmenerus akan mendukung terwujudnya generasi yang kokoh memegang kejujuran.

Firman Allah ta’ala yang tertulis dalam surat Al Ahzab ayat 24 (terjemahan) : “agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar (jujur) karena kebenarannya, dan mengazab orang-orang munafik jika Dia kehendaki atau menerima taubat mereka. Sungguh Allah Maha Pengampun dan lagi Maha Penyayang.” Menunjukkan dengan jelas betapa kebenaran atau kejujuran merupakan perbuatan yang dpuji Allah swt, sebaliknya tindakan dusta atau munafik mendapat azab yang pedih. Bila Allah swt. dan Rasulullah saw. telah menyuruh manusia untuk melakukan suatu perbuatan, maka tidak diragukan lagi bahwa  mutlak kebenarannya dan pasti balasannya bagi yang mengerjakan atau meninggalkannya.

Memang membutuhkan perjuangan keras untuk berbuat jujur, memerlukan kepercayaan diri yang besar dan keberanian yang kuat agar kejujuran dapat ditegakkan. Kepercayaan diri mendorong munculnya keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah benar, dan  merupakan sikap mental yang pokok bagi seorang mukmin manapun, agar keimanan yang dimilikinya tidak hanya berhenti pada ucapan saja. Kuatnya rasa percaya diri  akan mendorong timbulnya efek keimanan menyebar ke area yang luas dan masyarakat yang lebih banyak, sehingga manisnya iman dapat dinikmati oleh banyak orang dimanapun adanya.

Sekolah yang bertanggungjawab secara konsisten terhadap penanaman sifat jujur dan orang tua yang peduli dengan sikap jujur pada  anak-anaknya akan memberi kontribusi besar terhadap pembentukankarakter generasi masa depan, perubahan-perubahan besar peradaban bangsa akan 

sumber : http://www.alhikmahsby.com/ind/?mod=news&id=411

Jan 23, 2013

DAMPAK SEKOLAH FULL DAY

DAMPAK SEKOLAH SISTEM FULL DAY TERHADAP SIKAP MENTAL ANAK

Dalam suatu seminar dengan para guru di Denpasar, Bali, Psikiater Prof Dr dr LK Suryani, SpKJ mengatakan, bahwa sisitem belajar-mengajar seharian yagn popular dengan sebutan full day school, dapat mempengaruhi sikap mental sisiwa. Bukannya positif, justru mentalnya dapat berkembang menjadi generasi dan beringas. Asumsi yang berani, namun benarkan bisa sebegitu menakutkan?

Saat ini sekolah dengan sisitem full day atau seharian di sekolah banyak diminati orang tua. Maklum orang tua zaman sekarang sibuk, dan tuntutan pada anak di masa mendatang pun cukup berat. Mau tak mau daripada lebih banyak di rumah, anak pun harus dimasukkan di sekolah yang memiliki sisitem belajar seharian atau full day school (FDS).

Di FDS, sejak pukul 7 pagi anak sudah harus berada di sekolah, dan baru pulang pukul 4 atau 5 sore. Proses dan fasilitas belajar, dari yang formal hingga informal atau ekstra kurikuler tersedia. Di sekolah mereka ditempa agar potensinya tergali, berkembang dan berprestasi.

Namun menurut Prof Dr dr LK Suryani, guru besar di Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Bali, kurikulum di negeri ini sebenarnya sudah cukup berat. Sudah berat, tak sedikit sekolah yang karena ingin disebut berprestasi, ditetapkan berbagai tes tambahan. Anak pun dipaksa belajar giat melebihi takaran yang dimiliki. Suryani mengibaratkan satu cangkir diisi satu ember air, tetap saja kapasitasnya secangkir, kelebihan air akan tumpah sia-sia. Artinya, kemampuan menerimanya tetap saja disesuaikan dengna kemampuan anak. “Karena itu saya tidak setuju dengan les tambahan. Boleh les asal yang diberikan adalah jenis tarian, melukis, drama, atau pelajaran yang menyenangkan seperti vocal group dan lainnya.”

Berbagai les tambahan ini menurut Suryani banyak diadopsi FDS. Karena itu menurutnya, seharian di sekolah untuk belajar dan belajar secara psikologis membunuh kesegaran berpikir sisiwa. “Lama belajar anak tidak boleh lebih dari 5 jam sehari. Selebihnya otak anak harus diistirahatkan dengan olah raga, kesenian atau kegiatan lain. Sekarang, karena keinginan pengelola sekolah menjadi sekolahnya favorit, anak dipaksakan belajar melampaui batas kemampuan berpikirnya. Bisa menyebabkan kejenuhan bahkan kelelahan,” jelas psikiater yang tak setuju sekolah system full day.

Generasi yang dituntut hanya belajar dan belajar ini menurut Suryani, mentalnya tak berkembang baik. Karena disekolah seharian, mereka minim berinteraksi dan bersosialisasi dengan keluarga dan lingkungannya. Karena dipaksa belajar agar memenuhi target orang tua dan sekolah untuk berprestasi, memunculkan kemarahan terpendam anak bahkan sikap aptis. “Tanpa kita sadari bisa lahir generasi beringas yang tidak peduli pada kepentingan umum, lingkungan, apalagi persoalan bangsa,”katanya si Seminar Guru ‘Memahami Perkembangan Mental Anak Didik’ di Denpasar beberapa waktu yang lalu.

Pernyataan Suryani memang controversial. Pertanyaannya, apakah sebegitu manakutkan akibat dari proses belajar ala FDS?

Dra Sukenrini, Kepala Sekolah SMP Cakra Buana yang dikenal menerapkan sistem Full day, menolah asumsi Suryani, terutama di sekolahnya. Menurutnya, memanfaatkan waktu belajar yang cukup panjang tersebut tak melulu untuk mengejar prestasi akademik. “Ada banyak hal yang dipelajari siswa. Tak hanya menekankan sisi akademis, tapi juga menyeimbangkannya dengan memasukkan unsure lain seperti social, emosional, fisik, hingga spiritual di harapkan tetap dapat berjalan seimbang,” tandas kepala sekolah SMP yang terletak di Depok itu.

Begitu pula yang dikatakan Drs Gatot Sulanjono, Kasek SD Al Hikmah, Surabaya. Pola belajar full day yang diterapkan disekolahnya kata Gatot, tidak terbatas pada pelajaran belaka, tetapi juga pada pendidikan. Sehingga meskipun jadwal belajarnya lebih panjang, anak didik tidak bosan. Karena di sekolah anak didik juga diberi waktu untuk berinteraksi dengan sesamanya, memimpin, disiplin, bermain dan tenty saja berperilaku terpuji.

Tapi bagaimana dengan pola di sekolah-sekolah full day lainnya? Bisa saja ada yang semata berorientasi prestasi akademik saja. Orang tualah yang seharusnya cermat memilihkan sekolah bagi buah hatinya.

ASALKAN DIPERSIAPKAN SEJAK DINI

Konsep full day school awalnya berkembang di Negara-negara maju seperti di Jerman, Eropa dan Amerika. Latar belakan berdirinya, karena sekolah di sana lebih banyak liburnya dibandingkan masuknya. Pada musim panas dan musim dingin misalnya, liburnya bisa sampai dua bulan. Karena itulah para sisiwa di Negara-negara tersebut disarankan mendapatkan pelajaran tambahan. Akhirnya umumnya sekolah di sana menerapkan system full day school.

Kondisi itu jelas berbeda dengan di Indonesia yang tak mengenal libur musim dingin atau panas. Meski demikian, karena system tersebut dianggap memiliki banyak kelebihan dan nilai positif, dunia pendidikan kita pun mengadopsinya. Anak-anak diberi ruang dan waktu yang lebih panjang untuk belajar, para orang tua yang sibuk juga terbantu karena bisa menitipkan anaknya di sekolah. Tapi memang diakui juga oleh para pakar, kelemahannya juga banyak. Misalnya, ketika anak merasa jenuh, apalagi jika bermasalah dengan guru, mereka akan stress. Selain itu, jika mengalami kelelahan, yang akan menyulitkannya dalam mengembangkan diri.

Dr Yuniarti, MPsi, pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta berpendapat justru sekolah FDS bisa memberi perlindungan lingkungan bagi anak. “Sekarang orang tua yang bekerja semakin meningkat. Di sisi lain anak-anak membutuhkan perhatian dan bimbingan, anmun FDS ‘kan bisa memnuhi kebutuhan tersebut, “jelasnya.

Namun untuk menentukan sekolah anak, apa pun jenis dan metode belajar sekolahnya. Menurut yufi harus melibatkan anak. Anak-anak diberikan pengertian mengenai alasan pemilihan sekolah. Sebaiknya sejak dini dia sudah harus dipersiapkan ketika hendak dimasukkan ke dalam full day school. Ini penting dilakukan agar dia tidak kaget dan bisa beradaptasi dengan cepat. “Guru pun harus pandai menciptakan suasana belajar yang nyaman, karena anak akan berada disekolah seharian,”ucapnya.

Kalau anak tidak dipersiakan sejak dini menurut Yufi, ia bisa tidak betah dan berat menjalankan aktivitas seharian di sekolah. “Kalau dipasa bisa stress. Makanya perlu persiapan mental dengan cara mengenalkan system tersebut sejak dini, sehingga anak tak kaget dan merasa nyaman,”jelas Yufi.

PERLU SCHOOL SHOPPING

Hal senada juga dikatakan psikolog seior Rose Mini, MPsi. Menurutnya, kalau sisiwa bersda di sekolah seharian penuh nemun hanya mendapat teori pelajaran saja, mungkin bisa berdampak buruk. Sebab, pada masa anak belajar seharusnya dikemas dengan cara bermain. Apalagi bila sekolah menerapkan sisitem full day. Aspek bermain dan berkegiatan dengan cara menyenangkan harus diperhatikan benar.

Di FDS menerapkan begitu. Jangan selalu mengasumsi bahwa sekolah FDS hanya belajar seharian. Umumnya justru menyajikan kegiatan yang mengasah kreatifitas, kerja sama tim dan lain-lain,” jelas psikolog yang disapa Romi ini.

Namun diakuinya tak semua anak bisa cocok dengan system FDS. Karena itu betapa pentingnya sebelum memutuskan di mana anak akan sekolah nanti, orang tua melakukan school shopping. Kenalkan pada anak sekolah yang akan mereka tempati. “Kebanyakan orang tua hanya memikirkan apa yang baik menurut mereka, tapi belum tentu cocok untuk putra-puterinya. Di sekolah para guru memang memberikan perhatian yang besar pada para siswa, namun tetap tidak dapat disamakan dengan perhatian orang tua," tandasnya.

Dengarkan keinginan mereka, saran Romi. Sebab jika sudah terlanjur dimasukkan FDS meski ia terpaksa, akibatnya anak mungkin saja dapat berperilaku sedikit nakal. “Perilaku buruk itu dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian orang tua. Misalnya ingin orang tua datang ke sekolah dan mencoba mengatakan kalau mareka tidak ingin berada di sekolah itu.” Untuk anak yang tergolong aktif, mudah berinteraksi dan cukup mandiri, kata Romi, FDS bisa jadi pilihan tepat.

Menurut Romi, jika anak merasa terpaksa dan tidak bahagia belajar di sekolah akan berakibat pada menurunnya motivasi belajar juga mentalnya. “ Jika hal ini terjadi bagaimana akan akan berprestasi sesuai harapan orang tua?”

Selain itu, setelah anak disekolah di FDS bukan berarti menyerahkan ke sekolah begitu saja. Orang tua harus tetap mendidik dan memantau perkembangan mereka. Apa yang diterapkan di sekolah harus dilanjutkan di rumah. Intinya, orang tua jangan melepaskan tanggung jawab.” Harus ada kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua agar kebutuhan anak-anak terpenuhi dan bahagia,” tandasnya.

Namun menurut Romu, anak yang sekolah di FDS belum tentu menjadi lebih mandiri daripada yang sekolah half day. “Penelitian mahasiswa saya untuk anak-anak kelompok bermain, tingkat kemandirian anak di kelompok bermain full day dengan yang half day sama saja, “ ujarnya.

Diluar negeri usia 17 tahun anak sudah bisa berpisah dari orang tua, sehingga kemandiriannya terbentuk sejak dini. Berbeda dengan kultur kita dimana anak selalu deka dengan orang tua hingga mereka berumah tangga. Karenanya orang tua harus memahami apa yang menjadi kebutuhan anak. Sebelum menentukan pilihan. Anak perlu diberi kesempatan untuk melihat sekolah-sekolah yang dapat mereka pilih. “tegasnya sekali lagi.


STANDARD KURIKULUM HARUS TERPENUHI

Lantas bagaimana pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyikapinya? Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas, Prof. Suyanto, Ph.D menegaskan, mendukung penerangan FDS di sekolah-sekolah yang dianggap memapu. Namun ia pun mewanti-wanti agar materi pelajaran tambahan pada system FDS disiapkan dengan matang sehingga betul-betul bermanfaat bagi siswa, bukan justru membebani.

Bagi anak yang orang tuanya sibuk, konsep FDS memang cocok. “Daripada anaknya dibimbing oleh pembantu, ‘kan lebih baik di sekolah. Jadi anak bisa berinteraksi dengan grupnya, bisa mengembangkan empati dan kolaborasi dengan teman-temannya,”tambahnya.

Di Amerika konsep FDS rata-rata berkembang karena hampir semua orang tua murid bekerja. Juga sebagai akibat pergeseran peran wanita yang dulunya hanya ibu rumah tangga, tapi kini banyak yang berkarier.

Kata Suyanto, sekolah yang menerapkan sisitem FDS pun harus mempunyai program yang baik. Kurikulumnya harus jelas, sesuai dengan tingkatan pendidikan. Hal ini untuk mencegah terjadinya dampak buruk seperti sikap mental negative. Apalagi anak seharian di sekolah. Sehingga sangat memerlukan kegiatan dan aktivitas yang mengarah pada kreativitas, agar seimbang antara teori dan praktik. Siswa pun tidak jenuh dan apalagi sampai tak suka berlama-lama di sekolah.

Depdiknas sejauh ini tidak mengatur pengembangan kurikulum di sekolah full day, menurutnya juga memang tak perlu yang terpenting standar pendidikan terpenuhi dan benar-benar bisa ditegaskan. “Inilah keunikan dari pendidikan kita. Semuanya dilakukan sebagai upaya meningkatkan mutu. Sekolah boleh melakukan inovasi-inovasi untuk kreativitas anak, namun harus secara bertanggung jawab, dan juga memiliki otonomu yang sebesar-besarnya, sehingga timbul kompetisi satu sama lain,”ucapnya.

Kalau tak bertanggung jawab bahkan sampai membebani bisa saja akan memunculkan masalah.


 sumber http://bundaananda.blogspot.com/2011/03/dampak-sekolah-full-day.html

Memilih Sekolah Dengan Sistem Full Day

Menjelang tahun pelajaran baru, bahkan beberapa bulan sebelum dimulainya tahun pelajaran baru, orang tua murid kembali disibukkan dengan kegiatan mencari sekolah untuk putra/putrinya. Apa saja sih yang menjadi pertimbangan Anda?
Belakangan ini, sekolah-sekolah dengan sistem full day school semakin banyak didirikan. Konon, karena tuntutan orang tua zaman sekarang yang menghendaki demikian. Semakin diminatilah sekolah serupa ini.
Pertimbangkan dengan baik sebelum membuat keputusan, karena walaupun yang akan membayar biaya sekolah adalah Anda, tapi sejatinya putra/putri Anda-lah yang akan menjalani masa sekolah. Tentu hanya manfaat terbesar yang kita harapkan dari proses belajar mereka di sekolah. Mereka mendapat ilmu yang bermanfaat, dan mereka pun bahagia menjalaninya.
Salah satu yang bisa dipertimbangkan adalah opsi sekolah dengan sistem full day, khususnya sekolah Islam full day. Jam kerja orang tua, pasangan suami-istri yang ketat dengan beban pekerjaan kantor mereka masing-masing, membuat mereka merasa harus menitipkan pendidikan anak-anak mereka pada sebuah lembaga terpercaya. Full day school menjadi pilihan untuk mengakomodir kondisi tersebut. Anak pulang di sore hari, tak lama sebelum kedatangan orang tuanya. Masih cukup waktu untuk membersihkan diri dan bersiap menyambut ayah dan/atau bunda dari kantor.
Dalam struktur keluarga masa kini, keberadaan Pembantu Rumah Tangga seperti menjadi sebuah keharusan. Tugas mereka bukan hanya sekedar memasak dan membersihkan rumah, mencuci dan menyeterika, tapi berkembang hingga merapikan peralatan sekolah anak dan membimbingnya belajar. Tapi akankah pembelajaran bersamanya akan optimal? Dengan latar belakang pendidikan maksimal SMA sekalipun, akankah PRT punya otoritas/kapabilitas untuk membimbing anak belajar dan beribadah? Ataukah tak berdaya pada kekuasaan dan keinginan si anak, hingga membiarkannya menonton TV, bermain game komputer, atau mengakses internet sesukanya di dunia maya? Tentu bukan itu yang kit inginkan, bukan?
Di sekolah dengan sistem full day, seluruh kegiatan anak terpusat di sekolah, mulai pukul 7.30 hingga pukul 4 sore, dengan berbagai aktivitas yang sarat dengan nilai pendidikan. Bahkan hasil didikan di sekolah tentunya akan berdampak pula dalam keseharian di rumah. Mari kita cermati bersama kegiatan rutin di sekolah dengan sistem full day.
Di pagi hari, biasanya kegiatan sekolah dimulai dengan ikrar atau doa pagi. Ini adalah ritual yang baik, dalam agama dan kepercayaan apapun. Doa akan membuat anak-anak fokus, selain merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Ilmu, agar apa yang dijalani di sekolah pada hari itu diliputi keberkahan selalu.
Kegiatan pembelajaran, pastinya dikemas dalam bentuk yang menyenangkan dengan nilai-nilai moral yang aplikatif, yang disampaikan dengan cara-cara yang menyenangkan. Sekolah-sekolah full day yang masih bertahan dengan gaya konvensional dan monoton pasti akan segera ditinggalkan oleh murid-murid yang tak tahan belajar karena bosan. Karena itu, sekolah yang menerapkan sistem full day tak punya pilihan lain selain mengemas pembelajaran dalam bentuk yang menarik. Dengan demikian, guru-guru pun terpacu untuk kreatif mencari terobosan baru. Ini pun tentu akan berpengaruh kepada putra-putri Anda yang bersekolah di sana.
Kegiatan makan, baik snack maupun makan siang yang dilaksanakan di sekolah, didampingi oleh guru-guru. Hal ini memastikan bahwa putra-putri Anda makan makanan sehat, dengan tatacara yang baik pula. Mensyukuri makanan apapun yang disediakan katering sekolah, makan dengan cara yang baik, hingga membantu merapikan kembali peralatan makan. Secara tidak langsung, ini mengajari putra-putri kita untuk bertanggung jawab.
Kegiatan sore sebelum pulang sekolah ditutup dengan shalat ashar bersama. Satu hari yang kembali ditutup dengan doa, semoga menjadi awal dan akhir hari yang baik dan penuh berkah.

Masih banyak lagi keuntungan yang ditawarkan pihak sekolah dengan sistem full day. Anda tinggal memilih sekolah mana yang akan Anda pilih untuk mendaftarkan putra-putri Anda di salah satu sekolah tersebut. “Investasi” Anda dalam menyekolahkan putra-putri akan terbayar lunas, bahkan berpeluang hadiah/bonus ketika putra-putri Anda menjadi anak-anak shalih dan shalihat yang masih terus mendoakan Anda bahkan ketika Anda telah tiada sekalipun. Bukankah doa dari anak yang shalih akan terus mengalirkan pahala kepada orang tua yang telah mendidiknya?
Pilihan ada pada Anda, ayah dan bunda. Tapi jangan lupa untuk tetap melibatkan putra-putri Anda untuk memilih sekolah, karena merekalah yang akan menjalani hari-hari sekolahnya. Tugas Anda untuk mengarahkan, membimbing, dan tentunya mendoakan. Semoga putra-putri Anda menjadi anak-anak yang sehat jiwa raga, cerdas, dan berakhlak budiman. Amiin.

sumber :http://www.beritaterkinionline.com/2011/04/memilih-sekolah-dengan-sistem-full-day.html

Jan 1, 2013

SEJARAH BERDIRINYA SDplus AN NAHDLAH



SEJARAH BERDIRINYA
SD Plus “An-Nahdlah ´ Gondang  berdiri pada 20 Mei 2012 . Tidak seperti sekolah-sekolah swasta lainnya  yang didirikan dengan modal besar oleh pemilik atau yayasannya, SD Plus “An-Nahdlah ´ Gondang  didirikan dengan modal niat, semangat, dan keihlasan oleh para pendirinya. Diantara para tokoh yang memprakarsai berdirinya SD Plus “An-Nahdlah ´ Gondang  adalah  Ust. Moh.Zumroni Fahry,S.H.I dan Ust.Moh.zainiS.Pd,dan Prof.DR.H.M.Amin,M.Si,M.Sc.Agr serta tokoh masyarakat sekitar desa  yang peduli dengan pendidikan. 

SD Plus An-Nahdlah Gondang di selenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Sosial “Nahdloh Al Islamiyah “ Gondang  yang baru  2 tahun berdiri. LPS Nahdloh Al Islamiyah ini
didirikan pada tanggal 27 Nopember 2010, Akta No. 7 tanggal 16 Desember 2011 oleh Notaris SRI MULYANI, SH. SD Plus Annahdlah   telah memperoleh ijin menyelenggarakan pendidikan dari Dinas Pendidikan dan Olah raga kabupaten Nganjuk dengan nomor Ijin : 420.5/5502/411.201/2012.
Proses berdirinya SD Plus “An-Nahdlah ´ Gondang  sempat ditanggapi pesimis oleh warga sekitar. Perasaan pesimis itu muncul karena masyarakat sekitar kami masih alergi sekali dengan pendidikan yang berlabel Islami,mereka masih punya anggapan bisa apa atau jadi apa nanti kalau anaknya bersekolah di sekolah islami.serta image yang telah terbangun selama bertahun-tahun dalam pikiran mereka bahwa bersekolah di sekolah negeri  merupakan kebanggaan ,pilihan yang tak tergantikan,dan tidak terbebani urusan bayar membayar alias gratis ,maka dengan tekad yang kuat bahwa anak-anak tidak hanya di didik akalnya (ilmu pengetahuan saja/IQ) tetapi  harus di didik hatinya, dengan pembiasaan akhlaq serta ibadah (EQ,SQ) secara langsung dan continyu,maka pelan tapi pasti Alhamdulillah   para orangtua  mulai tertarik .
Pada awalnya sama sekali tidak ada dana untuk membangun gedung ,tapi karena keyakinan para pendiri,jika ada rejeki sedikit  buat membeli batu bata,pasir,besi dan akhirnya terwujud sebuh pondasi.Dari pondasi itulah Alhamdulillah atas pertolongan Allah, sedikit demi sedikit ada masyarakat sekitar yang ikut menitipkan jariyah mereka untuk mewujudkannya.ada yang membantu uang, batu batanya,pasirnya, keramiknya,ada yang tenaganya,menanggung konsumsi tukang.Alhamdulillah semua di datangkan sendiri oleh Allah tanpa di minta.Alhamdulillah ketika tahun pelajaran baru SD Plus An-Nahdlah” Gondang sudah memiliki gedung, atau kami lebih suka menyebutnya “rumah belajar” meski tidak mewah sudah berdiri 2 ruang kelas  yang sudah sangat layak untuk proses belajar mengajar,dan 2 ruang kelas di lantai atas yang masih dalam proses penyelesaian  di atas tanah hak milik wakaf yang telah lebih dulu  berdiri  masjid  serta pendidikan non formal seperti TPQ, MADIN,dan PAUD yang berada dalam satu naungan yaitu Lembaga Pendidikan dan sosial Nahdloh Al Islamiyah. 
SD Plus “An-Nahdlah” Gondang resmi di launching pada tanggal 20 Mei 2012,oleh bapak Prof.DR.H.Moh.Amin,M.Si,M.Sc,Agr  dari UM Malang yang juga sebagai Pembinanya sekaligus di antara tokoh pendirinya.Harapan kami dari sesuatu yang kecil ini nanti muncul generasi yang tangguh,yang menggenggam dunia dengan tangannya tetapi memenuhi hatinya dengan iman kepada Robbnya.
Semoga  SD Plus “An-Nahdlah “ membawa maslahat dan barokah untuk semua.amiiiin.

SUSUNAN PENGURUS SD PLUS ANNAHDLAH GONDANG
Penanggung Jawab      : Moh. Zumroni Fahri, S.HI.(Ketua LAPISNA)
Dewan Pembina            : Prof. DR. H. Moh. Amin, M.Si, Msc.Agr.          (UM Malang)
Tim Pengembang          : 1. Prof. DR. Arif Hidayat, M.Si. ( UM Malang)
                                               2. DR. Abdurrohman Asy’ari, M.Ed. (UM Malang)
Dewan Pakar                : 1. Drs. H. Supiyanto, M.Si (Sekretaris Dinas Dikporada kab. Nganjuk)
                                         2. Hadi Sukamto,S.Pd,M.Si (Kabag.UmumDinas Dikporada Kab. Nganjuk
       KaBid  Pendidikan Formal LAPISNA         :           Moh.Zaini ,S.Pd